Kamis, 20 November 2014

Lingkungan Perkantoran


A. LINGKUNGAN YANG SEHAT
  • ERGONOMICS
ilmu terapan yang digunakan untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan tingkat kenyamanan, efisiensi, dan keamanan dalam mendesain tempat kerja demi memuaskan kebutuhan fisik dan psikologis pegawai di kantor
  • Smart Office
Mengintergrasi beberapa komponen lingkungan kantor, seperti pencahayaan, AC, konservasi energi melalui komputerisasi kantor
Beberapa fitur smart office, yaitu Small-zone areas dan Smart wired telecommunication system
  • Green Office Management
Dewasa ini semakin banyak perusahaan tertarik mengimplementasikan green office management, dengan cara me-recycle kertas, menggunakan cahaya alam, me-recycle cartridge atau toner printer

B. SISTEM PENCAHAYAAN

Empat jenis pencahayaan yang digunakan di kantor :
  • Ambient lighting
  • Task lighting
  • Accent lighting
  • Natural lighting
Empat jenis cahaya yang dapat digunakan di kantor :
  • Cahaya alami
  • Cahaya fluorescent
  • Cahaya Incandescent
  • High Intensity Discharge Lamps
Tiga parameter yang dapat digunakan dalam mengukur efektivitas pencahayaan di kantor :
  • Visibility
  • Fokus
  • Image
Karakteristik Sistem Penerangan
  • Equivalent Spherical Illumination (ESI)
  • Visual Comfort Probability (VCP)
  • Task Illumination (TI)
Sistem Penerangan
  • Direct
  • Semidirect
  • Indirect
  • Semiindirect
  • General Diffuse
C. WARNA

Faktor pemilihan warna :
  • Kombinasi Warna
  • Efek Cahaya pada Warna
  • Nilai Pemantulan Warna
  • Dampak dari Warna
Prinsip dalam Pemilihan Warna
  • Faktor yang perlu diperhatikan sebelum memulai perencanaan memilih warna ruang kantor, yaitu :
  • Penutup Lantai
  • Penutup Dinding
  • Warna Furnitur
D. KONTROL SUARA

Tingkat kebisingan pada kantor merupakan faktor lingkungan yang harus dipertimbangkan untuk mengelola tingkat produktivitas pegawai yang diinginkan
Apabila tingkat kebisingan melampaui batas yang tidak diinginkan, beberapa gangguan fisik dan psikologis terhadap pegawai akan terjadi 

Kontrol Suara pada Perkantoran
  • Konstruksi yang sesuai
  • Penggunaan Material Peredan Suara 
  • Alat Peredam Suara
  • Masking
E. UDARA
  • Temperatur Udara
  • Tingkat Kelembaban Udara
  • Sirkulasi Udara
  • Kebersihan Udara
F. MUSIK
  • Musik dapat membantu meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas pegawai dengan menghilangkan rasa bosan dan monoton dalam melakukan pekerjaan kantor
  • Musik memberikan efek menenangkan dari kelelahan mental dan fisik serta mengurangi ketegangan
  • Tipe musik yang dimainkan akan mempengaruhi produktivitas karyawan
G. KONSERVASI ENERGI

Komponen dari Program Konservasi Energi :
  • Komite Konservasi Energi
  • Penelitian Efisiensi Energi
  • Pengembangan Tujuan Konservasi Energi 
Teknik Konservasi Energi :
  • Penghematan energi pada sistem pencahayaan
  • Penghematan energi pada sistem pemanas/pendingin
  • Beberapa langkah penghematan lain
H. KEAMANAN KANTOR
  • Penggunaan shredder (penghancur dokumen kertas)
  • Penggunaan pengaman kantor
  • Penggunaan pencatat waktu untuk mencegah pegawai “mencuri” waktu kerja
  • Sistem keamanan yang terintegrasi
  • Menggunakan password untuk mengakses data di komputer


Salam Hangat,

Dek'Widya

PENGANTAR JURNALISTIK


Makna Jurnalistik-Jurnalisme
  • Berasal dari bahasa Perancis, “Journal,” yang artinya adalah catatan harian. Jurnalistiek (Belanda), Jurnalistic/journalism (Inggris)
  • Jurnalisme memiliki makna proses mengumpulkan, menyiapkan dan menyebarkan berita melalui media massa
  • Jurnalisme merupakan pekerjaan yang menantang, baik secara politis, etis maupun fisik dan sekaligus merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Karena untuk menggeluti bidang ini dibutuhkan suatu pengetahuan dan ketrampilan yang luas.
  • Para reporter harus mempu membaca, menulis dan menghitung
  • Reporter harus memiliki rasa ingin tahu yang mendalam, tabah, imajinatif, pemberani, siap menentang: stereotip, membongkar mitos dan kebohongan
Untuk Apa Jurnalisme?
  • Jurnalisme hadir untuk memenuhi hak-hak warga negara
  • Jurnalisme hadir untuk demokrasi
Tujuan Utama Jurnalisme
  • Kewajiban utama adalah untuk memenuhi kebenaran
  • Loyalitas utama jurnalisme kepada warga
  • Intisari jurnalisme adalah disiplin dalam verifikasi
  • Menjaga indepensi terhadap sumber berita
  • Sebagai pemantau kekuasaan
  • Penyediaan forum publik untuk kritik maupun dukungan
  • Berupaya membuat hal yang penting, menarik dan relevan
  • Menjaga berita yang komprehensif dan proposional
Ruang Lingkup Jurnalistik
  • Manajemen redaksional (ada wartawan kota, reporter kota, wartawan daerah; redaktur pelaksana, litbang, redaktur senior, pimpinan redaksi)
  • Manajemen bisnis
  • Manajemen percetakan
Prinsip-Prinsip Jurnalistik
  • Kecepatan
  • Ketepatan
  • Kompetensi (kemampuan orang dalam menjalankan tugas)
  • Penekanan (terkait dengan masalah pokok)
  • Loyalitas
  • Kelayakan dan prioritas
Fungsi Jurnalistik
  • Mencerdaskan masyarakat
  • Menegakkan keadilan
  • Menyampaikan masalah publik
  • Hiburan
  • Kontrol sosial
Dasar Bahasa Jurnalistik
  • Pengantar
  • Bahasa sebagai perangkat kebiasaan untuk dimiliki setiap orang sebagai media komunikasi sangat kompleks.
  • Bahasa sebagai alat kesadaran, yang terdiri dari tiga perangkat organ: pertama, perangkat alat penginderaan, perangkat alat emosional (efektif) dan alat penalaran (logika)
  • Bahasa yang dipakai manusia pada umumnya bahsa lisan dan bahasa tulisan
  • Bahasa tulisan digunakan tanpa bantuan intonasi, gerak dan situasi yang dapat dimanfaatkan oleh bahasa lisan. Dalam bahasa tulisan kita hanya dapat menggunakan kata-kata konvensional, yang berdasarkan sistem konvensional dapat dijadikan kalimat
  • Dalam bahasa tulisan menghendaki ketelitian, kontruksi kalimat yang lebih logis, kemampuan pemilihan serta pembentukan kata yang lebih tepat. Oleh karenanya diperlukan pengetahuan dan penguasaan tata bahasa agar dapat menggunakan alat-alat perangkat bahasa lebih efektif.
  • Menulis adlah menyatakan pikiran dan perasaan dengan bahasa di atas kertas atau bahan lain yang dapat digunakan
  • Menulis adalah ketrampilan yang dapat ditingkatkan dengan pratik
  • Bahasa jurnalistik termasuk di dalamnya kalimat jurnalistik mencakup tiga aspek, yakni penguasaan materi (isi) yang dikemukakan, kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, teknik penyajian. Ketiga aspek ini tidak dapat dipisahkan.
Bahasa yang “Menjerit”

Pada dasarnya, Bahasa Indonesia Jurnalistik, sama saja dengan Bahasa Indonesia pada umumnya. Hanya saja pengembangan bahasa pers lebih mengarah pada sikap publisistik yang mudah dimengerti untuk umum. Namun prinsip Bahasa Indonesia yang baik dan benar harus dipegang
Untuk menarik pembaca, harus dipancing dengan kata-kataa, kalimat yang ekspresif. Kata yang dipilih harus mencerminkan realitas. Pilihan kata akan sangat mempengaruhi minat baca, Kon sekuensinya, kata yang klise dan sloganistis harus siap menghadapi kenyataan pahit, yakni ditinggalkan pembacanya. Untuk hal ini hindarilah kalimat gaya roman yang bertele-tele, dan gaya undang-undang yang kaku an kering. Kalimat hendaknya jangan panjang-panjang. Sebagai contoh: kalimat pendek terdiri dari 1 –10 kata, kalimat sedanga terdiri dari 11 –20 kata, kalimat panjang terdiri dari 21 –30 kata. Selain kalimat tidak panjang-panjang, berlaku juga aspek kejelasan, ringkas (prinsip ekonomi kata berlaku disini) dan tertib.
Kalimat jurnalistik haruslah komunikatif menarik
Tugas utama anda sebagai jurnalis adalah membantu orang untuk mengerti apa yang terjadi di sekitar mereka; di desa, di daerah, di kota, di negara dan di dunia.

Kata kunci Dalam Bahasa Jurnalistik
  • Mahir mengguakan kata
  • Mencermati ejaan
  • Menyiasati pembentukan kata
  • Kata ulang
  • Kelompok kata
  • Diksi atgau pilihan kata
  • Kata denotasi (arti harafiah) dan konotasi (semua tautan pikiran)
  • Kata kontrit dan abstrak
  • Kata umum dan khusus
  • Majas
  • Idiom
  • Ekonomi kata
PRINSIP UMUM PENULISAN BERITA
  • Pengertian Berita
Berita (news) merupakan sajian utama sebagian besar media massa disamping views (opini,pendapat),
Tugas pokok jurnalis/reporter/wartawan adalah mencari dan menyusun berita lalu menyiarkannya lewat media.

4 UNSUR YANG HARUS DIPENUHI OLEH SEBUAH BERITA
  • CEPAT, yakni aktual/ ketepatan waktu. News/berita adalah sesuatu yang baru
  • NYATA, yakni informasi sebuah fakta (fact), bukan fiksi/karangan Fakta dalam dunia jurnalistik terdiri dari kejadian nyata (real even), pendapat (opinion) dan penyataan (statement) sumber berita
  • PENTING, artinya menyangkut kepentingan orang banyak
  • MENARIK, artinya mengundung orang untuk membaca berita tang kita tulis
TeknikMenulisBerita(PiramidaTerbalik)

Ini adalah cara untuk menulis berita, dengan berita utama pada permulaan dan sisanya dalam rinci menyusul dengan urutan kepentingan yang menurun.
Bentuk berita ini, dengan”lebar” di atas dan “sempit” di bawah, adalah ukuran dari berat berita itu sendiri.

Susunan Isi
Paragraf pertama disebut pengantar, terdiri dari bagian yang paling layak untuk diberitakan dari cerita yang terbaru, paling luar biasa, paling menarik dan paling penting disampaikan dengan jelas & sederhana. Kemudian diikuti dengan penjelasan penuh dan semua rincian, baik utama maupun pelengkap.

PRINSIP UMUM YANG HARUS ADA DALAM SETIAP PENULISAN BERITA
  • MASUK AKAL
  • Pengertian masuk akal dalam hal ini dapat diukur dengan logika umum maupun logika dnegan pendekatan dari bidang yang sedang diteliti
  • HARUS BOTH SIDE (fair, seimbang), bersikap netral
  • JELAS ( baik kalimat maupun tulisan keseluruhan)
  • HEMAT & EKONOMIS Melakukan peresmian…Kenapa tidak “Meresmikan”
  • KONSISTEN & ARGUMENTATIF
  • KREDITASI & OTORITAS NARASUMBER Misal, sangat tidak memiliki otoritas jika ingin bicara mengenai teknologi pesat terbang minta pendapat artis porno
  • TIDAK MELANGGAR ASAS PRADUGA TAK BERSALAH hindari kata-kata yang subyektif
  • MEMPERHATIKAN PRINSIP 5 W + 1 H
  • HINDARI KATA-KATA SUBYEKTIF YANG TAK TEPAT misalnya, “Anehnya, mengherankan
  • ANGLE (sudut pandang) HARUS JELAS
  • LEAD (pendahuluan) MENARIK
  • MUDAH DIMENGERTI & ENAK
  • MENGANDUNG INFORMASI/DATA/PERSPEKTIF BARU
  • STRUKTUR/FLOW OF CHART HARUS
  • RAPI & SISTEMATIS
  • CERMAT & AKURAT
  • PEMAKAIAN ISTILAH YANG TEPAT misal, kita harus tahu tepat apa arti istilah ‘Tukas”, “Sergah,”
  • JANGAN BOHONG bohong adalah pelanggaran terberat dalam pekerjaan jurnalistik yang mengandalkan kepercayaan
BOHONG = DOSA

Dalam dunia jurnalistik, dosa kita terbesar ialah tidak adanya pengendalian dalam memakai kata-kata
Tidak adanya pengendalian, membawa kita ke ‘dosa’ yang lain eufeminisme atau kata pelembut

PENULISAN RELEASE
  • Tidak Ada Orang Yang Terlahir Menjadi Penulis
  • Banyak hal yang dapat kita lakukan dan peroleh dengan menulis.Diantaranya kita dapat menyuarakan ketertindasan masyarakat,terutama kaum miskin yang tak mampu bersuara
  • Mengapa Perlu Menulis?
  • Dengan menulis dapat membuat rasa kepuasan diri
  • Persoalannya adalah untuk memulai dapat menulis,tidaklah semudah membalikan telapak tangan namun perlu berlatih dan latihan secara terus menerus
  • Dengan menulis dapat meningkatkan citra organisasi dan citra dirinya
Menemukan Ide Untuk Menulis
  • Sudah dipersiapkan sejak dahulu
  • Dari teman yang pernah membuat
  • Melalui hasil konsultasi dengan orang lain
  • Melihat dan merasakan serta tanggap atas peristiwa yang terjadi
  • Mendengar, melihat, merasakan, merenung
Teori”Komposisi”DalamDuniaTulisMenulis
  • Kegiatan sebelummenulis (temukan ide dan tentukan fokusnya)
  • Kegiatan saatmenulis (duduklah dan mulai menulis)
  • Kegiatan setelahmenulis (baca ulang hasilnya)
Unsur Yang Perlu Diperhatikan
  • Materi/bahan tulisan
  • Gaya bahasa/tulisan
  • Kelengkapan (photo, sumber, gambar, dll)
Press Release

Press releaseadalah segala bentuk informasi yang hendak disebarluaskan kepada pers, biasanya adalah media cetak (dapat juga media siaran dan media audivisual).
Press Release Memiliki 3 Bentuk Penekanan Yang Berbeda
Umum. Informasi yang mengandung nilai berita (news value) bagi media lokal, regional/nasional
Product release.Informasi yang disebarkan berkaitan dengan peluncuran produk/jasa baru dari suatu perusahaan/organisasi
Financial release.Meskipun informasi keuangan pertama-tama menjadi kepentingan pemegang saham, releaseini sering juga dapat menjadi konsumsi umum bila menyangkut perusahaan besar (nilai rp/$)

Judul Press Release
  • Judul harus menarik & mewakili isi berita
  • Kalimat pembuka/tubuh press releasesebaiknya memuat informasi 5 W + 1 H
  • Akurasi
  • Bahasa
  • Ekslusivitas
  • Relevansi
Modal Dasar Untuk Dapat Menulis
  • (willingness to write)
  • (motivation to write)
  • (abaility to write)

Salam Hangat,

Dek' Widya


Fotografi


1.Bahasa Gambar 

Apakah yang dimaksud dengan gambar (bhs Inggris = Picture)  itu? Lalu bagimana membedakannya antara gambar (picture) dengan gambar (picture) yang dalam bahasa Inggris disebut photographs (bhs Indonesia = foto)? Gambar atau picture dalam istilah umum adalah suatu hasil coretan tangan manusia dalam dua dimensi. Hasil karya yang semacam itu  lazimnya disebut lukisan/gambar. Sedangkan gambar atau Photographs adalah gambar dari suatu peristiwa yang terjadi atau “dijadikan” yang pengerjaannya melalui proses photography. Untuk membedakan dan mempermudah pemahaman kiranya lebih baik dipakai istilah lukisan untuk gambar hasil coretan tangan, dan foto untuk gambar hasil proses photography atau hasil jepretan kamera foto.


Lukisan adalah karya seorang seniman lukis. Sedangkan foto adalah karya seorang photographer yang bekerja menggunakan kamera foto yang mencoba menangkap, membekukan, mencipta kembali atau membentuk kembali suatu realitas atau kenyataan. Realitas atau kenyataan itu adalah suatu peristiwa diluar kita yang mempunyai sifat dinamis, tidak pernah sama dan selalu berubah di dalam ruang dan waktu. Gambar – dalam hal ini foto – mencoba menampilkan kembali atau memproduksi kembali sebagian saja dari realitas besar atau kenyataan tersebut. Dengan kata lain gambar (foto) yang dibuat adalah representasi dari suatu realitas yang sangat besar.

Sebagai sebuah representasi dari realitas besar tentu saja bukan realitas itu sendiri melainkan menjadi sesuatu ungkapan yang bersifat simbolis artinya bahwa keberadaannya merupakan bagian kecil dari realitas besar yang berada di luar dari gambar itu. Foto adalah realitas kecil yang  melepaskan diri atau dfilepaskan dari dimensi ruang dan waktunya sirealitas besar, yang kemudian pada saat ini – ketika seseorang menyaksikannya - menjadi sebuah bukti (dokumen) dari suatu realitas dari masa yang sudah lampau, atau menjadi cermin yang mempunyai kandungan sebuah kenangan. Selain itu orang juga sering menyebutnya bahwa gambar (foto) merupakan ungkapan  non-verbal dari suatu aktifitas komunikasi.

Dengan demikian bisa dikatakan pula bahwa gambar (foto) merupakan bahasa yang universal yang mempunyai kemungkinan bisa dipahami oleh semua orang yang terbiasa – yang mempunyai kesamaan referensi tentang sesuatu itu – meskipun berbeda asal-usul kebangsaannya. Tentu saja tidak semua orang akan mendapatkan kesan yang sama dari sebuah gambar (foto) yang sama. Namun seringkali kita mendengar ungkapan bahwa sebuah gambar yang baik mempunyai nilai seribu kata karena gambar bisa berkata jauh lebih banyak dari pada satu paragraph penjelasan tertulis yang bagus.

Selain itu sebuah gambar juga bisa   mempunyai seribu makna. Berdasarkan proses produksinya, sebuah gambar tercipta selalu bergantung pada teknologi yang digunakan. Misalnya penggunaan lensa yang berbeda, pembingkaian yang berbeda, penggunaan tipe film yang berbeda, proses pencetakan yang berbeda, teknik penyinaran yang berbeda, bisa menimbulkan kesan yang berbeda pula. Juga perbedaan cara pandang atau pikiran yang tersembunyi dari si seniman foto terhadap obyek garapannya, bisa berpengaruh pada   karya yang dihasilkan  Itulah sebabnya mengapa makna sebuah gambar (foto) menjadi sangat subyektif.

Sebuah gambar mempunyai sifat yang paradoxal. Kita bisa mengidentifikasi secara terperinci sebuah gambar - apa saja isi visualnya – namun selalu saja ada sesuatu yang tidak dapat diketahui atau informasi yang tidak lengkap dari gambar yang kita lihat itu.
Disebabkan oleh adanya informasi yang tidak lengkap itu, banyak orang sering menjadi kebingungan dan salah interpretasi dalam membaca sebuah gambar. Bagaimana membaca sebuah gambar, menjadi suatu ketrampilan yang tidak kalah penting dibandingkan dengan belajar bagaimana membaca sebuah karya sastra.

Suatu hal yang penting untuk diperhatikan yaitu bahwa sebuah gambar itu menuntut respons atau tanggapan. Gambar memancing dan merangsang timbulnya suatu makna. Makna adalah produk dari pola pengakuan dan pengenalan kembali atau merupakan tanda berwujud visual yang mengingatkan seseorang tentang suatu pola yang sudah dikenali  penonton tentang pengalaman nyata di masa lalu. Sebuah gambar bisa menimbulkan berbagai macam interpretasi dari penonton yang berbeda. Dengan demikian  sebuah makna pada dasarnya juga suatu hal yang subyektif. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa makna merupakan deskripsi (pengungkapan) verbal yang subyektif dari sebuah gambar (foto) dan itulah bahasa gambar.

2. Lalu apakah yang dimaksud dengan photolanguage?

Photolanguage atau bahasa foto adalah studi tentang gramatika gambar. Jika kita memahami gramatika gambar,  kita menjadi lebih mudah membaca gambar, mudah menganalisis dan menginterpretasikan gambar. Dengan demikian bisa diharapkan bahwa jika kita mengetahui bagaimana membaca  dan menganalisis dengan cermat suatu foto kiranya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa kita juga bisa membaca suatu realitas.    

Gambar adalah medium komunikasi non verbal. Dengan sebuah kamera, baik kamera yang memakai film ataupun digital, baik yang diam (still photo) maupun yang bergerak (seluloid atau video), bisa “mengabadikan” apa saja yang bisa kita lihat dalam kenyataan hidup sehari-hari untuk dipindahkan menjadi gambar. Dengan demikian gambar yang kita rekam tersebut adalah representasi dari sebuah realitas, namun bukan realitas itu sendiri karena realitas yang ada di dalam gambar hasil rekaman itu hanyalah sebagian saja dari realitas yang lebih besar atau realitasyang jauh lebih kaya dari pada realitas yang ada di dalam gambar.  Selain itu realitas di dalam gambar hanyalah realitas yang dua dimensi, sementara realitas yang sebenarnya adalah tiga (3) dimensi.

Dengan peralatan rekaman baik kamera photo maupun kamera video, siapapun dia telah melakukan pembatasan “gerak” dinamis dari realita dunia. Sementara itu, dunia selalu bergerak dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari dan seterusnya. Dunia yang sebenarnya tidak pernah sama. Oleh karena itu apa yang dilakukan dengan alat rekam sebenarnya adalah perbuatan “menghentikan” gerak atau dinamika dunia.
Maka hasil rekaman itu, pada masa berikutnya sudah menjadi dokumen tentang masa lalu. Misalnya; kita bisa menyaksikan suasana yogya pada tahun 1920, dengan melihat foto atau rekaman gambar bergerak pada film yang di buat pada tahun itu.

Photo ataupun film (saat ini lebih banyak memakai video) adalah sebuah bentuk komunikasi non verbal. Sebagai alat komunikasi tentu saja selalu ada pesan yang ingin diekspresikan oleh seorang fotografer atau seorang sinematografer. Itu berarti hasil karya foto ataupun karya sinematografi sangat ditentukan oleh pembuatnya. Apa yang masuk dan apa yang tidak masuk di dalam bingkai atau frame ditentukan oleh kameramennya.
Seorang kameramen, sebagaimana manusia pada umumnya melihat kehidupan nyata ini
secara selektif. Apa yang dilihatnya adalah yang memang diinginkan untuk dilihat. Secara subyektif ia memilih apa yang ingin dilihat. Kamera tidak dapat demikian. Kamera akan melihat semua yang terdapat di depannya.

Kamera adalah perpanjangan mata seorang kameramen. Subyektifitas seorang kameramen dalam melihat realitas sebuah realitas diekspresikan melaluai kamera. Dengan berbagai teknik, seorang kameramen mengontrol subyek atau obyek agar menimbulkan tertentu supaya apa yang dimaksudkannya bisa ditangkap dan dipahami oleh orang yang melihat hasil rekaman itu.
Agar memahami makna yang terkandung di dalam gambar hasil rekaman (baik foto maupun video) tidaklah mudah. Kendatipun seseorang merasa mengerti tentang sesuatu yang terdapat di dalam gambar, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dipahami. Karena itu, sebuah gambar menjadi sangat tergantung kepada siapa yang menginterpretasikan. Penonton yang melihat gambar tertentu akan menginterpretasikan gambar tersebut menurut pikirannya yang didasari oleh pengalaman hidupnya atau pola pikirnya hingga mempunyai kesan tertentu.. Dengan demikian penonton juga subyektif.

Untuk mengarahkan penonton memahami suatu maksud, seorang kameramen perlu mengontrol subyek yang ada dengan memanfaatkan semua elemen-elemen fotografis seperti garis, bentuk-bentuk, bayangan, kontras, warna, angle, gerakan, komposisi., simbol-simbol visual lain , untuk memunculkan suatu kesan tertentu. Kameramen “menangkap” sebuah realitas menurut sudut pandangnya dan kemudian memperlihathannya kepada penonton. Kemudian penonton mencoba mengerti atau memahami berdasarkan pengalamannya.
Sebagai contoh; di suatu tempat terjadi bentrokkan fisik antara sekelompok mahasiswa yang sedang berdemonstrasi dengan sekelompok polisi. Andaikan saja kita ingin menyajikan peristiwa tersebut kepada penonton televisi dengan merekamnya dalam format MSL (medium long shoot) yang memperlihatkan hampir seluruh kejadian tersebut selama 2 menit. Dari rekaman tersebut meskipun banyak orang mengerti apa isinya, namun masih banyak juga informasi yang tidak bisa diketahui. Barangkali muncul pertanyaan-pertanyaan apa penyebabnya? Siapa yang memulai?, Berapa korbannya? dan sebagainya. Kemudian berdasarkan pengalaman hidup masing-masing, penonton akan mencoba memahami rekaman tersebut dengan pikirannya. Bagi mereka yang mempunyai pengalaman buruk terhadap mahasiswa akan mengatakan bahwa mahasiswa anarkis. Sedangkan yang mempunyai pengalaman buruk terhadap polisi akan mengatakan polisi represif dan kejam. Atau barangkali juga akan ada yang mengatakan kedua-duanya brutal.

Berdasarkan realitas di atas, seorang kameramen bisa menyampaikan pesan berdasarkan sudut pandangnya. Jika ia ingin menyampaikan pesan bahwa polisi itu memang kejam. Maka dengan teknik fotografi seperti angle, framing, komposisi dan sebagainya ia akan lebih banyak memunculkan bagian-bagian peristiwa yang menunjukkan kekejaman polisi dan tidak mengambil sudut pandang yang bisa menampakkan di bagian lain di mana mahasiswa sedang melempar bom molotov dan mengenai polisi hingga terbakar. Maka penonton yang menyaksikan rekaman tersebut pasti akan membangkitkan kebencian mereka terhadap polisi. Demikian juga sebaliknya kalau kamera lebih banyak diarahkan pada aksi mahasiswa yang anarkis kesan penonton tentu saja berbeda.

Belajar “membaca”  gambar untuk belajar “menulis” dengan gambar.

Kamera foto maupun video adalah media rekam. Untuk menyampaikan pesan, pikiran, maksud, informasi dan sebagainya, seorang kameramen harus mampu “menuliskan” apa yang ingin disampaikan ke dalam gambar dengan menggunakan elemen-elemen visual agar penonton bisa “membaca” dan kemudian mengerti maksudnya. Agar bisa “menulis” dengan baik seyogyanya mengerti lebih dahulu bagaimana “membaca” gambar. Untuk mempertajam kejelian dan membiasakan diri berfikir secara visual baik kiranya berlatih menganalisis berbagai gambar karya orang lain terutama gambar-gambar karya kameramen ternama. Salah satu cara menganalisis gambar adalah dengan melalkukan 3 langkah yaitu; Inventarisasi, diskripsi dan verbalisasi.
  • INVENTARISASI
Apabila melihat gambar, semua orang tentu mengerti tentang yang dilihatnya. Kemudian lakukanlah pengamatan secara seksama seluruh elemen-elemen yang ada di dalam gambar. Di dalam gambar barangkali terdapat orang, bunga, pohon, gunung, langit, mobil, rumah dan sebagainya bahkan mungkin pula terkandung unsur-unsur garis, bentuk, kegelapan, terang, watrna dan sebagainya. Coba rasakan beberapa elemen sering menyiratkan sesuatu. Misalnya bunga alang-alang bisa jadi menyiratkan keliaran atau kebebasan. Warna biru memberi kesan dingin dan warna merah memberi kesan panas. Garis diagonal untuk jalan memberikesan dinamis dan masih banyak lagi elemen-elemen gambar yang mempunyai makna dan arti sendiri-sendiri.
  • DISKRIPSI
Pada tahap ini “pembaca” hendaknya mengamati relasi dari semua elemen-elemen yang ada. Apakah hubungan antar elemen-elemen memberi kesan tertentu? Apakah yang dominan? Apakah yng kurang dominan? Apakah terdapat kontras? Manakah figur utama? Manakah ground? Dan sebagainya. Di dalam langkah ini barangkali mendapatkan mood atau atmosfir dari keseluruhan gambar.
  • VERBALISASI.
Dari data-data yang didapatkan pada langkah 1 dan 2, kemudian dicari apa yang ingin dikatakan dari gambar tersebut.

Dengan selalu membuat semacam evaluasi dan menganalisis setiap melihat gambar, kepekaan terhadap gambar akan semakin terlatih. Dengan demikian pada saatnya menjadi mudah apabila ingin mengkomunikasikan secara visual ide-ide dengan menggunakan gambar dan gambar yang diciptakan menjadi komunikatif.

Untuk melakukan rekaman gambar, sebelum memutuskan untuk menekan tombol record, sebaiknya kameramen melakukan analisis terlebih dahulu apa yang terlihat melalui view finder, dengan mengingat langkah-langkah analisis gambar secara terbalik, yaitu; Verbalisasi, Diskripsi dan Inventarisasi. Kameramen hendaknya mempertimbangkan dahulu apa yang ingin disampaikan (Verbalisasi). Kemudian untuk “menuliskan” ide, apakah ada bagian dari elemen-elemen gambar yang perlu ditonjolkan?, Apakah yang akan menjadi Ground dan Apakah yang akan menjadi Figur? (Diskripsi)  Dan selanjutnya, melalui View Finder analisislah apa saja elemen-elemen gambar yang bisa memperkuat kesan (Inventarisasi). Dan setelah itu ditentukanlah bagaimana Anglenya, Bagaimana pembingkaiannya? (Framing), Bagaimana Close Up-nya, komposisinya dsb.

3. Bagaimana memilih angle yang baik

Jika Anda melihat sesuatu yang menarik untuk difoto, organ tubuh yang pertama perlu bergerak adalah kaki, bukan tangan. Mengapa? Karena Anda mungkin perlu bergerak memutari obyek dulu untuk mendapatkan angle dan komposisi yang maksimal. (Tentu saja, hal ini bisa diabaikan jika timing atau sikonnya tidak mengizinkan kita untuk bergerak sebelum memotret.)

Bagi saya, angle dan komposisi adalah kunci untuk mendapatkan foto yang bagus. Dengan komposisi yang bagus, obyek yang sederhana (atau bahkan sepele) pun bisa disajikan dengan cantik. Sebaliknya, dengan komposisi atau angle yang jelek, obyek yang luar biasa pun akan terlihat nanggung atau kurang pas jika dipajang di dinding.
Sebenarnya  apa yang saya maksud dengan angle dan komposisi?
Sebenarnya, angle dan komposisi mengacu ke satu hal yang sama: bagaimana sebuah foto diambil/dibuat. Angle mengacu ke fotografer dan kamera: arah dari mana foto tersebut diambil. Sedangkan komposisi mengacu  ke hasil fotonya: bagaimana elemen-elemen dalam foto tersebut disusun/diatur sehingga menghasilkan keseluruhan gambar yang menarik atau kuat. Angle menentukan komposisi; begitu juga untuk mengubah komposisi diperlukan perubahan angle.
Secara umum, bisa dikatakan pemilihan angle dilakukan sebelum pemilihan komposisi. Pilihan angle sangat banyak: seorang fotografer bisa memutuskan untuk mengelilingi sebuah obyek 360 derajat, bahkan terkadang ada pilihan untuk mengambil angle dari atas atau pun dari bawah. Setelah memutuskan dari arah mana ia akan memotret, barulah sang fotografer mengangkat kamera ke matanya, membidik obyek, dan menggeser2 sedikit kameranya untuk mengubah letak obyek (dan obyek-obyek lain, termasuk foreground atau background) untuk mencapai komposisi yang ideal. (Walaupun tidak menutup kemungkinan sang fotografer ternyata harus bergeser dan mengubah angle sedikit lagi untuk mencapai komposisi yang lebih ideal. Misalnya, karena ternyata dari angle yang ia pilih obyeknya akan kurang kontras dibanding background.)

4. Seperti apakah angle yang bagus itu? 

Angle yang bagus adalah angle yang bisa menyampaikan apa yang Anda ingin sampaikan dengan sebaik-baiknya.


Mungkin terdengar sederhana, tapi ada satu pesan penting yang sering dilupakan orang: bahwa Anda pertama-tama harus tahu dulu apa yang Anda ingin sampaikan. Jadi, langkah pertama adalah: visualisasi. Misalnya pemotretan terhadap seekor burung terdapat pilihan untuk mengambil foto burung tersebut dari arah depan atau samping (dengan derajat yang bervariasi); selain itu  juga bisa memotret burung itu sambil berdiri (angle dari atas ke bawah), atau bisa bisa juga jongkok dan memotretnya dari samping (sejajar). Apakah angle dari atas ke bawah itu jelek? Apakah angle dari depan itu jelek?
Bayangkan  Anda melihat seorang tunawisma sedang tidur di trotoar. Anda punya pilihan untuk mengambil fotonya tegak lurus dari samping (sehingga badannya melintasi frame), atau dari arah kepala ke kaki, atau dari arah kaki ke kepala; begitu juga Anda bisa memotret dari atas ke bawah, atau sejajar (mungkin perlu jongkok?). Mana yang lebih bisa menyampaikan apa yang ingin Anda sampaikan (rasa kasihan, rasa kagum, atau sekedar snapshot kehidupan?).
Ada beberapa “aturan” yang bisa diikuti tentang pengambilan angle; misalnya, angle dari atas ke bawah biasanya menggambarkan XXX, atau angle dari bawah ke atas akan memberikan kesan YYY, tetapi hal tersebut tidak begitu penting untuk dihafalkan. Lebih baik  mencoba sendiri dan melihat hasilnya. Janganlah suka  mengurung kreatifitas Anda dengan mengajari bahwa angle begini akan menghasilkan kesan begitu. Siapa tahu Anda bisa menemukan penggunaan angle yang menimbulkan efek yang berbeda dari yang selama ini dipakai.

5. Apa yang sebaiknya digunakan sebagai background atau foreground?

Pilihan angle mempengaruhi apa yang masuk dalam frame, bahkan jika hanya sebagai background yang tidak focus sekalipun. Dalam kasus tunawisma di atas, jika Anda mengambil angle tegak lurus, maka mungkin yang masuk dalam frame Anda hanyalah tunawisma tersebut dan sepotong trotoar dan tembok. Jika Anda mengambil angle lebih miring, maka mungkin sebagian dari pemandangan jalanan akan terekam juga dalam frame Anda.

Background/foreground apa yang memperkuat foto?
Apakah pemandangan jalanan tersebut akan membantu memperkuat foto Anda? Ini kembali tergantung pada apa yang ingin Anda sampaikan. Apakah Anda lebih suka jika fotonya simpel dan hanya berisi sang tunawisma, trotoar dan tembok saja? Terserah Anda.
Apakah obyek cukup kontras dengan background?
Foto cenderung menjadi lebih kuat jika obyek bisa teridentifikasi dengan jelas; antara lain dengan membuat kontras yang cukup tinggi antara obyek dengan background

6. Tips mengembangkan keterampilan fotografi.
  • Selalu membawa kamera
Alasan utama mengapa Anda melewatkan momen yang bagus untuk difoto adalah karena Anda tidak membawa kamera. Jadikanlah suatu kebiasaan untuk selalu membawa kamera kemanapun Anda bepergian karena Anda tidak tahu momen-momen atau pemandangan-pemandangan apa yang akan Anda temui nanti. Belilah tas atau tempat untuk kamera Anda karena hal tersebut dapat memudahkan Anda membawa kamera, selain itu juga dapat melindungi kamera Anda dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti goresan maupun benturan dengan benda lain. Tas atau tempat kamera yang memiliki busa dan memiliki lapisan luar yang cukup keras adalah pilihan yang cerdas untuk hal ini.
  • Foto Lebih Banyak Lagi
Jika Anda berfikir bahwa Anda telah cukup banyak mengambil foto, tidak demikian adanya, terutama jika Anda adalah pemilik kamera dijital. Hasil foto kamera dijital disimpan dalam format dijital (berkas), jadi tidak ada kerugian bagi Anda untuk mengambil foto lebih banyak. Memang foto tersebut akan menghabiskan sejumlah space pada kartu memori Anda, namun nantinya Anda dapat dengan mudah menghapusnya jika Anda tidak puas dengan hasil foto tersebut. Mengapa Anda mengambil sebuah foto jika Anda bisa mengambil banyak foto? Tidak usah ragu, karena mungkin tempat di mana Anda mengambil foto tersebut tidak akan Anda kunjungi lagi. Foto sebebas-bebasnya, karena pemandangan/adegan sehari-hari yang membosankan dapat saja menjadi bersejarah beberapa tahun kemudian.
  • Percaya pada Mata Anda
Mempelajari aturan-aturan composition adalah hal yang baik, namun aturan-aturan tersebut kadangkala tidak berlaku dan ada kalanya Anda harus mempercayai mata Anda. Ketika kita akan memfoto sebuah objek, gerakkan atau pindahkan kamera dan jelajahi pemandangan sekitarnya. Ketika Anda menemukan sudut potret yang menurut Anda bagus, fotolah dengan segera.
  • Latih Mata Anda
Lihat dan perhatikan dengan seksama foto yang Anda ambil. Cobalah untuk menemukan kekurangan-kekurangan dan kritiklah hasil foto tersebut. Apakah foto tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan pada saat kita memfoto? Apakah Anda sukacomposition-nya? Aktivitas peninjauan kembali hasil foto oleh Anda sendiri sangat esensial dalam meningkatkan indra fotografi Anda.
  • Kenali Kamera Anda
Anda tidak perlu menghafal setiap fitur pada kamera Anda sesegera mungkin. Akan lebih mudah mengingat fitur-fitur Anda dengan perlahan-lahan mencoba fitur-fitur kamera Anda satu-persatu melalui aktivitas fotografi sehari-hari. Analoginya seperti saat kita belajar mengganti persneling saat mengendarai sepeda motor atau mobil. Jadikan kemampuan mengutak-atik fitur kamera menjadi kebiasaan Anda. Dengan demikian Anda tahu dengan baik fitur-fitur apa yang mesti dipakai pada saat memfoto suatu objek atau pemandangan.
  • Frame & Komposisi
Terdapat  beberapa aturan dasar untuk menghasilkan foto yang memiliki frame & komposisi yang tepat:
a. Aturan pertama
Selalu pastikan objek foto sedikit melenceng dari titik pusat komposisi foto – baik secara horisontal maupun vertikal. Hal ini akan menjadikan foto lebih dinamis dan “memaksa” mata untuk mengamati keseluruhan foto saat foto diperhatikan.
b. Aturan kedua
Jika Anda mengambil foto pemandangan, pastikan garis horizon tidak membelah foto menjadi dua. Selain itu, pastikan tidak ada elemen vertikal yang bisa melakukan hal yang sama. Garis-garis lain dalam foto juga tidak boleh memiringkan komposisi foto (kecuali objeknya memang begitu).
c. Aturan ketiga
 Pastikan objek yang Anda foto menghadap ke arah depan. Ini berarti harus ada lebih banyak ruang di depan objek dibanding di belakangnya.
d. Aturan keempat
Jika dimungkinkan, letakkan sesuatu di depan foto Anda. Ini akan menambah unsur dramatis dalam foto, memberikan titik referensi bagi objek dan menambah kedalaman foto.
e. Aturan kelima
Usahakan agar latar belakangnya sederhana agar tidak mengalihkan mata dari objek yang seharusnya dilihat.
f. Aturan keenam
Anda tidak harus mengambil seluruh bagian objek ke dalam foto. Terkadang, teknik ini menambah rasa penasaran terhadap maksud foto tersebut.
g. Aturan ketujuh
 Aturan yang disebut Rule of Thirds. Aturan ini digunakan untuk mendisiplinkan beberapa aturan sebelumnya. Bayangkan foto dibagi oleh beberapa grid yang membentuk sembilan kotak yang sama besar. Jika objek diletakkan pada empat kotak yang saling bersinggungan, komposisi foto pasti lebih baik. Ini juga mencegah objek foto berada di tengah foto. Masih dengan blok yang sama, jika Anda menempatkan horizon foto sejajar dengan garis horizon atas atau bawah, otomatis Anda telah menaati Aturan 2 (Horizon tidak boleh membelah foto). Singkatnya, gunakan garis grid ini sebagai panduan horizontal dan vertikal, serta gunakan empat blok yang berdekatan untuk menjaga objek agar tidak terlalu terpusat di tengah foto.

7. Memahami Pencahayaan

Fotografi adalah lukisan dengan menggunakan cahaya. Maka, hal terpenting dalam fotografi adalah pencahayaan. Sekilas memang pencahayaan ini terkesan sulit, tapi pada dasarnya, penyetelan banyak - sedikitnya cahaya yang akan masuk dalam lensa kamera nggak begitu rumit. Kamera digital memang memiliki penyetelan cahaya secara otomatis, yang apabila di tempat terang ia akan menyesuaikan setelan rana menjadi lebih sempit sehingga hasil gambar akan normal, alias nggak berlebih cahaya (over-exposure). Tapi bagaimana di tempat gelap? Realitanya, kebanyakan kamera saku belum mampu mengatasi masalah pemotretan di tempat gelap. Dengan setelan shutter yang relatif cepat disertai dengan kondisi cahaya minim, hasil foto pasti akan buram. Solusi untuk ini tentu saja dengan memilih kecepatan rana rendah.

  • Memotretlah Tanpa Flash
Tidak semua tempat bisa dijadikan lokasi pemotretan sesuai keinginan kita. Di museum, misalnya, kita nggak bisa seenaknya menggunakan lampu flash saat memotret obyek. Untuk menyiasati larangan tersebut, coba setel ISO ke level yang paling tinggi, buka aperture atau diafragma selebarnya dan gunakan shutter yang lambat. Dengan setelan ini, ditambah dengan penggunaan tripod, niscaya gambar kita akan bebas dari minim cahaya dan keburaman. Bagaimana kalau nggak ada tripod? Jangan khawatir, dengan teknik dasar, hal-hal sepert ini bisa diatasi. Caranya, perhatikan lah posisi tangan saat memotret. Minimalisasi gerakan yang mampu mengaburkan gambar dengan menempelkan sedekat mungkin lengan yang memegang kamera ke badan kita, lalu teguhkan posisi badan. Memang, trik ini nggak bisa menggantikan posisi tripod 100%, tapi bisa sedikit mengurangi gerakan yang mampu mengaburkan gambar.
Hal diatas sangat mudah dipahami, sekarang konsentasikan teknik pemotretan ke pemilihan penempatan obyek dalam gambar. Umumnya pandangan seseorang akan tertumpu pada obyek yang berada di tengah. Dengan kata lain, obyek yang di posisikan berada di tengah gambar akan mudah terlihat kekurangannya. Untuk mengecoh pandangan penikmat foto, coba ubah penempatan posisi obyek supaya nggak pas di tengah gambar.
  • Menjelajahi Sudut
Sebaiknya jangan terpaku dengan sudut pengambilan sudut datar. Sesekali cobalah sudut pandang yang tajam dan juga sudut miring. Nantinya hasil gambar akan menarik. Masalah utama dalam fotografi salah satunya adalah keburaman. Betapapun canggihnya program manipulasi gambar, jika pada saat dipotret gambar sudah buram, akan susah untuk memperbaiki ketajaman gambar. Untuk mencegah keburaman, perhatikan selalu kecepatan shutter ketika akan memotret. Keburaman pada gambar seringkali disebabkan oleh terlalu cepatnya shutter. Idealnya, jika memotret tanpa tripod, pakailah shutter 1/125. Namun bila kita menyanggakan kamera di atas tripod, bisa pilih shutter dengan kecepatan 1/60 atau 1/30
  • Jangan Tantang Matahari
Hindari pengambilan gambar yang menantang matahari. Artinya, subyek foto lah yang menghadap sumber cahaya agar gambar yang di hasilkan terang. Jika sebaliknya, subyek akan terlihat gelap, sementara bidang lain di luar subyek akan terang benderang. Hasil ini bisa dianalogikan dengan suasana gerhana matahari. Memang, teknik fotografi menentang cahaya, atau sering disebut siluet, kerap dipilih para fotografer. Tapi jika teknik kita masih dalam level pemula, sebaiknya tunda dulu pengambilan gambar siluet.

8. Fotografi Jurnalistik

Terdapat beberapa pengertian mengenai fotografi jurnalistik yang dikemukakan oleh para ahli fotografi. Menurut Hanapi yang dimaksud dengan fotografi jurnalistik yaitu kegiatan fotografi yang bertujuan merekam jurnal peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia. Wilson Hick dalam bukunya Word and Picture memberi batasan fotografi jurnalistik adalah  media komunikasi verbal dan visual yang hadir bersamaan. Sedangkan Soelarko mendefinisikan foto jurnalistik sebagai foto berita atau bisa juga disebut sebagai sebuah berita yang disajikan dalam bentuk foto. Sementara itu Oscar Motuloh, fotografer senior Biro Foto LKBN Antara Jakarta menyebut foto jurnalistik  adalah medium sajian untuk menyampaikan baragam bukti visual atas suatu peristiwa pada suatu masyarakat seluas-luasnya,
Dilihat dari beberapa pengertian yang ada maka foto jurnalistik dapat disebut sebagai suatu sajian dalam bentuk foto akan sebuah peristiwa yang terjadi, di mana peristiea tersebut berkaitan dendan apek kehidupan manusia dan disampaikan guna kepentingan manusia itu sendiri. Kepentingan manusia dalam hal ini berupa kebutuhan akan informasi atau juga beita yang terjadi di seluruh belahan bumi ini.

Syarat umum untuk membuat foto berita dengan baik adalah:
  • Memiliki konsep tentang isi (picture content, news content)
  • Memiliki  keterampilan teknis: mempersoalkan penyajian teknis yang matang secara fotografi.
Foto-foto yang dimuat dalam surat kabar memang tidak selalu menggambarkan suatu peristiwa atau berita (newsphoto), melainkan bisa juga bersifat ilustratif, yaitu bisa berdiri sendiri atau menyertai suatu artikel, termasuk di dalamnya adalah foto-foto yang bersifat ‘human interest’ (menarik perhatian dan membangkitkan kesan). Foto-foto yang dimuat dalam surat kabar itu secara ‘salah kaprah’ biasa disebut sebagai foto jurnalistik, artinya foto yang dihasilkan oleh kerja jurnalis (wartawan)  di lapangan.
Suatu foto memang tidak bisa melukiskan keterangan-keterangan verbal yang diperoleh wartawan di lapangan, tapi dengan kemampuan visualisasi yang disuguhkan, sebuah foto bisa mengungkapkan pandangan mata yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Berbeda dengan berita tulis di mana wartawan bisa secara tidak sengaja memasukkan subjektivitas yang bisa memengaruhi opini. Dengan foto akan memperkecil subjektivitas tersebut.Kepada pembaca disuguhkan secara visual apa adanya. Pembaca akan memberi penafsiran terhadap foto tersebut; yang tentu saja satu dengan lainnya bisa berbeda. Maka tidaklah salah ungkapan “one picture paints thousand words”
  • Foto Jurnalistik Yang Menarik
Sejak itulah pemuatan gambar di surat kabar menjadi semakin tambah banyak dan mulailah redaksi mempertimbangkan perlunya mangadakan tugas khusus bagi wartawannya hanya untuk pekerjaan memotret saja, artinya hanya mencari gambar melulu. Spesialisasi mulai diberlakukan di dunia persuratkabaran maju. Sesudah ada spesialisasi itu , maka para pakar atau jurnalis mulai memerhatikan apa sebenarnya yang sangat menarik dari sebuah foto yang patut untuk dimuat di surat kabar.

Dari hasil pengamatan mereka, disimpulkan bahwa gambar/foto jurnalistik yang menarik itu harus mempunyai tiga aspek utama : daya tarik visual (eye catching), isi atau arti (meaning) dan daya tarik emosional (impact).

Namanya saja foto berita maka norma-norma atau nilai-nilai yang disandang suatu berita (tulis) yang menarikpun juga dituntut bagi sebuah newsphoto; seperti faktor-faktor yang menambah nilai/bobot foto tersebut, antara lain : sifatnya menarik (interesting), lain dari biasanya (different), satu-satunya (exlusive), peristiwanya dekat dengan pembaca (close to the readers), akibatnya luas, mengandung ketegangan (suspense) dan menyangkut masalah sex, humor, konflik dll.

Dari batasan-batasan foto jurnalistik itulah maka kemudian para jurnalis foto memfokuskan perhatinnya pada hal-hal yang tersirat di dalam kriteria  itu. Untuk menjadikan diri sebagai jurnalis foto profesional maka seorang wartawan perlu memerhatikan hal-hal tersebut, disamping mesti memperdalam pengetahuan dan memperbanyak pengalaman.  Seorang wartawan foto dituntut tahu benar tentang kamera dan proses fotografi, tahu pula memanfaatkan kesempatan yang baik untuk kameranya serta harus cekatan agar tidak tertinggal oleh peristiwa. Wartawan foto mesti mampu mengkombinasikan kerja mata, otak dan hati dalam tugasnya. Sebagaimana tujuan surat kabar yaitu memberikan kepada pembacanya informasi, edukasi, entertaintment dan (bisa) persuasi, maka bidang cakupan wartawan foto sangatlah tidak terbatas. Apa saja yang bisa memenuhi salah satu saja dari keempat kriteria tersebut dapat disajikan. Jadi  dalam hal ini si wartawan-lah yang memegang peranan penting. Ada ungkapan ’the singer is not the song’ atau ’the man behind the gun’. Bukan objek fotonya yang menarik tapi bagaimana kemampuan si wartawan mengungkapkan dalam foto. Bukan kameranya yang hebat, tapi bagaimana kepiawaian sang wartawan foto menghasilkan gambar yang memenuhi banyak kriteria tersebut di atas.
  • Kategori dan Bidang-bidang Foto Jurnalistik
Kategori Foto jurnalistik meliputi :Spot News, Feature, General News, Tokoh, Keseharian, Seni budaya dan Fashion, Alam dan Lingkungan, IPTEK, dan Olahraga.Sedangkan bidang-bidang yan ada dlam foto jurnalistik di antaranya adalah : War Correspondent ( Wartawan Perang ), Wartawan Foto Olah raga, Glamour dan Pin –Up Fotografi, Fashion Fotografer, wartawan Foto Majalah, General Interest.
  • Makna dan Peranan Foto Jurnalistik
Ruang lingkup foto jurnalistik adalah manusia, dan karena itu kehadiran foto jurnalistik memiliki beberapa makna yang berperan dalam kehidupan manusia, diantaranya yaitu : foto jurnalistik sebagai saksi mata, fotografi jurnalistik sebagai lambang, foto jurnalistik sebagai himbauan dan foto jurnalistik sebagai komentar sosial.
  • Perbedaan Foto Jurnalistik dengan Foto Dokumentasi
Kehadiran foto jurnalistik tak lain merupakan wujud dan perkembangan foto dokumentasi, oleh karena itu foto dokumentasi merupakan dasar dari foto jurnalistik yang ada pada saat ini. Foto dokumentasi adalah sebutan untuk foto berita dan foto sejarah, karena tujuannya merekam suatu peristiwa untuk disimpan bergantung  pada urgensitas peristiwa dan subjek foto yang diabadikan.
Antara foto jurnlistik dengan foto dokumentasi memiliki perbedaan dan batasan yang sangat tipis. Nilai berita pada sebuah foto biasanya terletak pada sejauh mana foto itu dapat menggugah perhatian dari khalayak umum, bukan hanya orang atau kelomppok masyarakatyang bersngkutan. Nilai tersebut bisa disebut sebagai publik interest, maka semakin tinggi nilai beritanya.  Foto jurnalsitik memiliki nilai berita yang sangat tinggi karena dapatr menmbiu[ulkan perhatian perasaan bahkan reaksi tertentu pada  semua khalyak umum secara luas.
Berbeda pada foto dokumentasi, arti kata dokumentasi mengandung konotasi yang lunak dalam hal nilai beritanya. Selain perbedaan, di antaranya foto jurnalistik dan foto dokumentasi memiliki persamaan yaitu dari segi tujuan foto terserbut. Tujuan kedua foto jurnalistik dan foto dokumentasi merekam suatu peristiwa untuk disimpan sebagai arsip.

Menurut Hermanus Priatna ( Editor Foto di Biro Foto LKBN Antar 0 menyatakan bahwa foto jurnalistik dan foto dokumentasi memiliki perbedaan. Pada foto jurnalistik, peristiwa diabadikan untuk secepat-cepatnya disampaikan kepada khalayak melalui mdia massa, sedangkan foto dokumentasi mengabadikan peristiwa untuk kepentingan pribadi, misalnya foto-foto untuk keperluan isntansi pemerintah atau individual.

9. Petunjuk Praktis

Untuk wartawan foto atau calon, Kenneth Blume, seorang wartawan foto dan penulis pada harian ‘Courier-Crecent’ (Ohio, AS) memberi penegasan, bahwa gambar yang baik pada surat kabar adalah yang segera menarik perhatian pembacanya. Berdasar pengalamannya dia memberikan petunjuk praktis bagaimana sebaiknya membuat foto berita itu.

  • Usahakan tidak menampilkan lebih dari lima orang dalam satu gambar.
  • Biarkan gambar kelihatan natural (alami/apa adanya), jangan dibuat-buat atau direkayasa.
  • Lebih baik menghabiskan banyak frame untuk memungkinkan banyak pilihan dari pada tidak mendapat gambar yang baik.
  • Usahakan tidak memuat gambar ”police line up” (beberapa orang disejajarkan menghadap lensa dengan latar belakang tembok kosong).
  • Gunakan background atau latar keliling untuk menambah daya tarik dan memudahkan pembaca mengenal lokasi atau posisi kejadian.
  • Untuk menamba variasi atau daya tarik lain, bisa memotret dengan gaya ’frog eyes’ atau ’bird view’.
  • Gunakan penerangan alami atau bounced flashlight (sinar blitz yang dipantulkan ke langit-langit). Kalau bisa hindari penggunaan lampu kilat langsung.
  • Usahakan untuk menunjukkan situasi beritanya, kalau mungkin.
Namun sukses surat kabar dalam menyajikan gambar lebih banyak bergantung kepada editor fotonya yang memberi  perintah (assignment) kepada fotografer dan memilih foto-foto yang masuk di mejanya, dan melakukan cropping kalau perlu.

10. Peraturan dan etika jurnalistik

Ada beberapa peraturan dan etika untuk menyiarkan foto itu kepada publik seperti adanya beberapa hak pokok individu yang dilindungi undang-undang dan hukum yang sangat prinsipil untuk melindungi seserang antara lain:

  • Gangguan atas pengambilan foto dimana hak privacy seseorang memang diperlukan
  • Penggunaan foto untuk kepentingan sebuah produk tertentu
  • Sepihak sehingga menyebabkan seseorang terlihat buruk
  • Pengambilkan foto yang memang terjadi akan tetapi foto tersebut bersifat pribadi atau bisa memalukan seseorang
Dengan adanya batasan-batasan  di atas maka kita dapat mengetahui, kapan kita bisa melakukan pemotretan yang nantinya dapat kita siarkan kepada publik.

11. Peraturan dalam pengambilan gambar pada lokasi tertentu

Tempat umum

Ada etika dan aturannya jika kita ingin mengambil foto di tempat umum, seperti di pinggir jalan, kebun binatang, bandar udara, juga di lingkungan kampus ataupun sekolah di mana bila kita mengambil dalam kelas itu.
Dalam kegiatan umum kita juga bisa membuat foto selama tidak mengganggu pekerjaan orang itu seperti polisi yang sedang mengatur lalu lintas dan lain-lain. Adakalanya beberapa orang berusaha menghalangi wartawan kendati kehadiran tersebut berlangsung di tempat umum, dalam hal ini, pengadilan melindungi kepentingan wartawan.
Bila suatu peristiwa terjadi di tempat umum seperti kecelakaan pesawat udara yang kelak akan melibatkan polisi ataupun petugas keamanan yang lain dan wartawan yang akan meliput dihalangi, kebanyakan wartawan merasa keberatan atas larangan itu. Karena nantinya wartawan  bisa didakwa dengan alasan menghalangai pekerjaan petugas. Memang polisi punya hak demikian, tetapi pengambilan  gambar dan bertanya sebenarnya bukan  tindakan yang melanggar hukum. National Press Photographers Associates (NPPA) berusaha meningkatkan saling pengertian antara polisi dan wartawan sejak tahun 1950.
Gedung tertentu walaupun milik umum seperti gedung DPR, MPR ,Pemda dan Rumah sakit, markas militer dan penjara, tentunya punya aturan khusus, Seperti Rumah Sakit misalnya kita dapat membuat berita bergambar tapi setelah itu haruslah dicek dulu apakah ada orang dalam gambar tsb, apakah orang tersebut merupakan pasien yang teridentifikasi

Ruang sidang DPR ataupun sidang MPR sudah pasti milik umum tapi di sana punya aturan khusus, misalnya kamera televisi boleh masuk tapi fotographer tidak diijinkan ikut sidang regular dengan alasan wartawan mungkin dan pasti akan merekam anggota dewan yang menguap, tidur, senang sms dan telepon, baca koran dan bahkan yang tidak hadir sekalipun.
Biasanya dalam sidang–sidang tertentu dibuat aturan khusus, apabila sidang tengah diperkarakan peristiwa besar misalnya,  mereka hanya memberikan tiga kesempatan kepada para wartawan yakni kesempatan sebelum sidang dimulai, saat istirahat dan saat persidangan selesai.
Ada tiga faktor yang menjadi pegangan dasar, apabila kita memutuskan soal etika ketika akan mempublikasikan  ataupun menyiarkan sebuah gambar ke masyarakat umum. 3 faktor tsb:
  • Manfaat
Dengan mempertimbangkan bahwa kita haruslah memilih yang terbaik untuk  kepentingan orang banyak
  • Mutlak
Seorang wartawan foto harus mengambil gambar, apabila memang harus ia siarkan agar masyarakat tahu peristiwa sebenarnya.
  • Gabungan antara manfaat dan mutlak
Pengambilan dan penyiaran foto di Indonesia tidak diatur secara tegas, seperti hukum federal dalam melindungi subjek fotografi. Akan tetapi seorang fotograper yang bergerak dalam bidang jurnalistik dibatasi rambu-rambu peraturan seperti misalnya dalam KUHP pasal 161 tentang ancaman pidana apabila ia mengganggu ketertiban umum. Oleh karena itu akan lebih bijaksana apabila seorng foto  jurnalis mengacu pada kode etik jurnalistik

Berikut ini akan dijabarkan  Kode Etik Wartawan Indonesia (KEW). Guna menjamin tegaknya kebebasan pers serta terpenuhinya hak-hak masyarakat diperlukan suatu landasan/moral/etika profesi yang bias menjadi pedoman operasional dalam menegakkan integritas dan profesionalisme wartawan. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan kode etik.
  • Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperolah informasi yang benar.
  • Wartawan Indonesia menempuh tata cara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informsi serta memberikan identitas kepada sumber informasi
  • Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dengan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat.
  • Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis dan cabul serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
  • Wartawan Indonesia tidak menerima suap, dan  tidak menyalahgunakan profesi
  • Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang dan off the  record sesuai kesepakatan.
  • Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.
Pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran kode etik ini sepenuhnya diserahkan kepada jajaran pers dan dilaksanakan oleh organisasi yang dibentuk untuk itu.
Sepuluh Pedoman Penulisan tentang hukum :
  • Asas praduga tak bersalah (presumption of innocene)
  • Asas adil, fair dalam memberitakan kepada kedua belah pihak
  • Inisial bagi tersangka/tertuduh yang masih gadis/wanita yang menjadi korban pemerkosaan, remaja (perkara susila, korban narkotika). Belakangan ini media sudah tidak mempedulikan lagi dengan inisial
  • Anggota tersangka tidak disebut dalam pemberitaan
  • Proses hukum yang wajar
  • Menghindari trial by the press
  • Jangan memburuk-burukkan tersangka
  • Tidak berorientasi posisi/jaksa centre tetapi memberikan kesempatan yang berimbang kepada polisi, jaksa, hakim, pembela dan tersangka.
  • Proporsional
  • Gambaran yang jelas mengenai duduk perkara (kasus posisi)
Hal yang paling utama bagi seorang wartawan foto adalah kejujuran dan keseimbangan yang disertai dengan kontrol diri.

Referensi:
Handout training SAV Puskat, Tulisan Budiyanto


Salam Hangat,

Dek' Widya

Minggu, 16 November 2014

Istri Yang Membahagiakan.

Kebahagiaan rumah tangga yang menjadi sasaran setiap keluarga terbentuk di atas beberapa faktor, yang terpenting adalah faktor anggota keluarga, mereka inilah faktor dan aktor pencipta kebahagiaan dalam rumah tangga, atau sebaliknya, kesengsaraan rumah tangga juga bisa tercipta oleh mereka.
Dari anggota rumah tangga, faktor yang paling berperan besar dalam perkara ini adalah istri, karena dia adalah ratu, anchor (jangkar) dan ikon utama sebuah rumah tangga, ia adalah rujukan suami dan tempat kembali anak-anak, maka dalam bahasa Arab dia disebut dengan ’Um’ yang berarti induk tempat kembali.
Sebagai pemeran utama dalam panggung rumah tangga, karena perannya yang cukup signifikan di dalamnya, maka istri harus membekali diri dengan sifat-sifat dan kepribadian-kepribadian sehingga dengannya dia bisa mengemban tugas dan memerankan perannya sebaik mungkin, dengan itu maka kondisi yang membahagiakan dan siatuasi yang menentramkan di dalam rumah akan terwujud.
  • Mengetahui skala prioritas.
Dunia memang luas dan lapang, namun tidak dengan kehidupan, yang akhir ini selapang dan seluas apa pun tetap terbatas, ada tembok-tembok yang membatasi, ada rambu-rambu yang mengekang, namun pada saat yang sama tuntutan dan hajat kehidupan terus datang silih berganti seakan tidak akan pernah berhenti, kondisi ini mau tidak mau, suka tidak suka berkonsekuensi kepada sikap memilah skala prioritas, mendahulukan yang lebih penting kemudian yang penting dan seterusnya.
Sebagai ikon dalam rumah tangga, istri tentu mengetahui benar keterbatasan rumah tangga di berbagai sisi kehidupan, keterbatasan finansial dan ekonomi misalnya, sebesar apa pun penghasilan suami plus penghasilan istri, jika istri bekerja, tetap ada atap yang membatasi, ada ruang yang menyekat, tetap ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh uang hasil usaha mereka berdua, ditambah dengan jiwa manusia yang tidak pernah berhenti berkeinginan, keadaannya selalu berkata, ”Hal min mazid?” (adakah tambahan?), maka sebagai istri yang membahagiakan dia harus mengetahui dengan baik prinsip dasar ini, maka dia mendahulukan perkara yang tingkat urgensinya tertingi kemudian setelahnya dan seterusnya.
Keterbatasan dalam hubungan di antara suami dan istri, mungkin karena latar belakang keduanya yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, keluarga yang berbeda, tabiat dan watak yang berbeda, hobi dan kesenangan yang berbeda, waktu yang tersedia untuk berdua minim, semua itu membuat hubungan suami istri serba terbatas, namun hal ini bukan penghalang yang berarti, bukan rintangan yang sulit selama istri memahami kaidah prioritas ini.
Istri yang baik adalah wanita yang mengetahui tatanan prioritas dengan baik, dalam tataran hubungan suami istri, secara emosinal dan fisik, dalam tatanan rumah tangga, secara formalitas dan etika, ia menempati deretan nomor wahid.

  • Realistis dalam menuntut. 
Di hari-hari pertama pernikahan, biasanya dalam benak orang yang menjalani tersusun rencana-rencana yang hendak diwujudkan, tertata target-target yang hendak direalisasikan, terlintas harapan-harapan yang hendak dibuktikan.
Umum, lumrah dan jamak, kata orang, hidup ini memang berharap, karena berharap kita bisa tetap eksis hidup dengan berbagai macam siatuasi dan kondisinya. Pun demikian dengan sebuah rumah tangga. Tahun pertama harus memiliki anu. Tahun kedua harus ada ini. Tahun ketiga, keempat dan seterusnya.
Sekali lagi wajar, selama hal itu masih menjejak bumi alias realistis dan bukan mengapung di awan alias berkhayal semata. Dan soal harapan dan ambisi biasanya istri selalu yang menjadi motornya. Dalam sebuah ungkapan dikatakan, “Wanita menginginkan suami, namun jika dia telah mendapatkannya maka dia menginginkan segalanya.” Benar, penulis setuju dengan pembaca jika pembaca berkata, “Ah, tidak semuanya.” Setuju, karena ini hanya sebuah ungkapan dan tidak ada ungkapan yang general. Namun dalam batas-batas tertentu ada sisi kebenarannya, karena tidak jarang kita melihat beberapa orang suami yang banting tulang dan peras keringat demi kejar setoran yang telah dipatok istrinya.
Maka alangkah bijaknya jika dalam menuntut dan mencanangkan target memperhatikan realita dan kapasitas suami, jika sebuah harapan sudah kadung digantung tinggi, lalu ia tidak terwujud maka kecewanya akan berat, layaknya orang jatuh dari tempat yang sangat tinggi, tentu sakitnya lebih bukan?
Sebagian istri memaksa suami menelusuri jalan-jalan yang berduri dan berkelok-kelok, di mana dia tidak menguasainya, apabila suami mengangkat tangan tanda dia tidak mampu mewujudkan sebagian dari tuntutannya, maka istri berteriak mengeluh. Hal ini, sesuai dengan tabiat kehidupan rumah tangga, menyeret kehidupan rumah tangga kepada jalan buntu selanjutnya yang muncul adalah perselisihan, jika ia menyentuh dasar kehidupan maka bisa berakibat keruntuhannya.
Benar, ketika seorang penyair berkata, Jika kamu membebaniku apa yang aku tidak kuasa Niscaya sikapku yang menyenangkan tidak menyenangkanmu
Seorang istri shalihah selalu mendahulukan akalnya, dia tidak membuat lelah suaminya dengan tuntutan-tuntutan yang tidak rasional, tidak membebaninya di luar kemampuannya dan tidak memberatkan pundaknya dengan permintaan-permintaan demi memenuhi keinginan-keinginan dan kesenangan-kesenangannya semata.
Salah satu contoh yang jarang ditemukan yang terjadi dalam sejarah tentang keteladanan sebagian istri yang begitu memperhatikan keadaan suami tanpa batas walaupun hal tersebut berarti mengorbankan kemaslahatannya sendiri adalah apa yang diriwayatkan oleh kitab-kitab ath-Thabaqat tentang Fatimah az-Zahra` pada saat dia dan suaminya Ali bin Abu Thalib mengalami kesulitan hidup yang membuatnya bermalam selama tiga malam dalam keadaan lapar, pada saat Ali melihatnya pucat, dia bertanya, “Ada apa denganmu wahai Fatimah?”
Dia menjawab, “Telah tiga malam ini kami tidak memiliki apa pun di rumah.”


Ali berkata, “Mengapa kamu diam saja?” Fatimah menjawab, “Pada malam pernikahan bapakku berkata kepadaku, ‘Hai Fatimah, kalau Ali pulang membawa sesuatu maka makanlah, kalau tidak maka jangan memintanya.”
  • Bermental kaya.
Mental kaya, dalam agama dikenal dengan istilah qana’ah, rela dengan apa yang Allah bagi sehingga tidak menengok dan berharap apa yang ada di tangan orang lain.
Kaya bukan kaya dengan harta benda, namun kaya adalah kaya hati, artinya hati merasa cukup. Sebanyak apa pun harta seseorang, kalau dia belum merasa cukup maka dia adalah fakir. Kata fakir adalah bahasa Arab yang berarti memerlukan, jadi kalau seseorang masih memerlukan [baca, berharap dan menggantungkan diri] kepada apa yang dimiliki oleh orang lain tanpa berusaha maka dia adalah fakir alias miskin.
Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasan istri dalam skala lebih besar daripada yang lain, jika istri tidak bermental kaya maka dia akan selalu merasa kekurangan, akibatnya dia akan sambat ngalor balik ngidul, (bahasa jawa yang artinya mengeluh ke mana-mana), siapa pun yang bertemu dengannya selalu disambati dengan kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental miskin, minim syukur, memposisikan diri sebagai orang miskin sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.
Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini, akan tetapi semua keutamaan ini tidak ada nilai dan harganya jika yang bersangkutan mempunyai tabiat sengsara dan mental miskin. Tabiat sengsara dan mental miskin bagi wanita menyebabkan kesengsaraan bagi suami dan kenestapaan bagi rumah tangganya.
Banyak wanita sejak zaman batu sampai hari ini merasa nyaman dengan tabiat sengsara dan mental miskin ini. Dalam kehidupan sejarah penulis mengetahui Nabiullah Ibrahim pernah menemukan dua orang wanita, yang pertama bermental miskin dan yang kedua bermental kaya, keduanya pernah menjadi istri bagi anaknya, Ismail. Istri pertama, Ibrahim, dengan bahasa kinayah (sindiran), meminta Ismail untuk berpisah darinya. Ibrahim melihat istri pertama bukan istri yang layak, karena dia bermental miskin, ketika Ibrahim bertanya kepadanya tentang kehidupannya dengan suaminya, yang Ibrahim dengar dari mulutnya hanyalah keluh kesah. Sebaliknya istri kedua, jawabannya kepada mertuanya mengisyaratkan bahwa dia adalah istri yang pandai bersyukur dan bersikap qana’ah, maka Ibrahim meminta Ismail untuk mempertahankannya.
Dalam kehidupan ini tidak satu kali dua kali menemukan istri model seperti ini. Di tinjau secara sepintas dari keadaan rumahnya, rumah milik sendiri, lengkap dengan perabotan elektronik yang modern, didukung kendaraan keluaran terbaru, di mana penulis sendiri tidak memliki semua itu, kalau pun memiliki, ya tidak sekelas dengan miliknya, dasar mentalnya mental miskin, maka yang bersangakutan tetap mengeluh seolah-olah dia adalah orang termiskin di dunia. Apakah hal ini merupakan kebenaran dari firman Allah Ta'ala, “Innal Insaana Khuliqa Halu’aa.”? (Al-Ma’arij: 19). Tanpa ragu, memang.
Jika istri bermental kaya maka keluarga akan merasa kaya dan cukup. Ini menciptakan kebahagiaan. Jika istri bermental melarat maka yang tercipta di dalam rumah adalah iklim melarat dan ini menyengsarakan.


Salam Hangat, 

Tugas dan Beban Ibu: Menyusui

Fase menyusu termasuk fase terpenting yang dilalui oleh anak, peran ibu dalam fase ini sangat penting, oleh karena itu Allah tidak menyerahkan
persoalannya kepada seseorang, akan tetapi Dia menurunkan ayat yang terbaca sepanjang waktu dan zaman, demi menegaskan di setiap tempat dan waktu pentingnya menyusui secara alami bagi ibu dan bayi sekaligus.

Firman Allah Ta’ala, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf.
Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).

Dalam Tafsir al-Qurthubi rhm tentang firman Allah, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya,” disebutkan ucapan adh-Dhahhak yang berkata, “Para ibu lebih berhak menyusui anak-anak mereka daripada wanita lain karena mereka lebih sayang dan lebih lembut, menjauhkan anak dari ibu merugikan keduanya.”

FirmanNya, “Selama dua tahun.” Yakni sempurna bagi siapa yang hendak menyempurnakan susuan, ini menunjukkan bahwa menyusui selama dua tahun bukan merupakan hak, boleh menyapih sebelum itu, dan hal ini bersifat kondisional.

Firman Allah, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya: ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu.” (Luqman: 14).

Firman Allah, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula), mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”(Al-Ahqaf: 15).

Dalam Tafsir al-Qurthubi disebutkan ucapan Ibnu Abbas yang berkata, “Kedua ayat ini tentang anak, dia berdiam di dalam rahim selama enam bulan, jika dia berdiam selama tujuh bulan maka susuannya selama dua puluh tiga bulan, jika dia berdiam selama delapan bulan maka susuannya dua puluh dua bulan, jika dia berdiam selama sembilan bulan maka susuannya selama dua puluh satu bulan berdasarkan firman Allah, “Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”(Al-Ahqaf: 15). Dari sini maka masa kehamilan dan menyusui saling berkaitan, sebagian mengambil yang lain.

Ini tentang masa menyusui, adapun tentang hukum menyusui maka Allah berfirman, “Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya.” (Al-Baqarah: 233). Al-Bukhari meriwayatkan dari Yunus dari az-Zuhri berkata, “Allah melarang menyengsarakan ibu karena anaknya, ibu berkata, ‘aku tidak menyusuinya’, padahal susu ibu adalah makanan terbaik bagi bayi, ibu lebih sayang dan lebih lembut kepada anak daripada selainnya, ibu tidak berhak menolak menyusui setelah bapak memberikan kepadanya apa yang Allah wajibkan atas dirinya, bapak tidak
boleh menyengsarakan ibu karena anaknya, bapak tidak menghalangi ibu menyusui anaknya dan menyerahkan anak kepada orang lain untuk menyusahkan ibu. Tidak ada dosa bagi keduanya menyusukan anak kepada orang lain dengan musyawarah dari bapak dan ibu, “Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (Al-Baqarah: 233). Setelah dicapai kesepakatan di antara mereka berdua.”

Melihat pentingnya menyusui secara alami bagi bayi, Allah swt menetapkan nafkah untuk ibu menyusui bahkan sesudah dia ditalak, hal ini agar anak
tidak sengsara karena disia-siakan dengan tidak mendapatkan nafkah dari bapak melalui ibu. Allah juga mendorong para ibu agar menyusui anak-anaknya, firman Allah, “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia.” (Al-Qashash: 7).

Karena susuan paling utama dan terbaik adalah yang langsung dihisap dari payudara ibu yang sehat setelah persalinan, susu ini adalah makanan alami
yang pas untuk bayi, Allah telah menyiapkannya dengan kadar dan ukuran tertentu yang tidak tertandingi oleh susu jenis apapun, meskipun ia diklaim
baik dari segi mutu dan kadarnya.

Kedokteran modern telah menetapkan manfaat-manfaat dari menyusui secara alami bagi anak dari segi kesehatan dan kejiwaan, di antara segi kesehatan
adalah:

1. ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, ia steril yang selalu siap karena tidak terkontaminasi oleh virus sebagaimana dalam susuan melalui botol, di
samping itu suhu panas ASI sesuai dengan suhu panas bayi dan lebih dari itu gratis tanpa perlu biaya.

2. ASI mudah dicerna karena ia mengandung zat-zat pencerna yang justru membantu usus untuk mencerna.

3. ASI tidak tertandingi oleh susu apapun karena ia diciptakan dan disusun demi memenuhi kebutuhan bayi hari demi hari, susunan kolostrum, cairan
berwarna kuning yang dihasilkan oleh payudara sesaat setelah persalinan, mengandung kadar protein lunak yang pas dan zat-zat imun yang melawan
mikroba dan virus, maka bayi tumbuh dan dia memiliki kekuatan melawan penyakit.

4. Bayi tumbuh dan berkembang sehat dan selamat dari penyakit jika dia menyusu secara alami, pada saat yang sama menyusu dari botol membuat bayi
riskan terkena beberapa penyakit seperti peradangan, diare dengan berbagai macamnya, tersedak dan masih banyak lagi.

Adapun dari segi kejiwaan maka kedokteran jiwa modern telah mengatakan bahwa menyusui secara alami menguatkan jalinan emosi antara ibu dengan
bayinya, menjadikan ibu lebih sayang dan perhatian kepada bayinya, menyusui bukan proses sebatas materi, akan tetapi ia adalah jalinan maknawi dan
pembentukan jiwa bagi bayi yang disusui.
(Izzudin Karimi) 


Salam Hangat,,

PRILAKU KONSUMEN : Segmentasi Pasar

Yukk, Lanjut ke Bab 3,, :D Segmentasi Pasar : Proses membagi pasar potensial menjadi kelompok konsumen yang berbeda beda dan memilih sat...